Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter
penting, yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel.Ginjal
mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan
mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan
cairan.Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam
dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan
abnormal dari air dan garam tersebut.
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena
metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap untuk melakukan respons
terhadap keadaan fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah essensial
bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri,
tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal
(fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang
relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan
cairan ini dinamakan “homeostasis”.
Komposisi Cairan Tubuh
Cairan tubuh terdiri dari air (pelarut) dan substansi terlarut
(zat terlarut)
1. Air
Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Jumlah air sekitar
73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body mass).
2. Solut (substansi terlarut)
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut
(zat terlarut) yaitu berupa elektrolit dan non-elektrolit.
• Elektrolit :
Substansi yang berdisosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan
menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan
negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain
(mEq/L) atau dengan berat molekul dalam garam (mmol/L). Jumlah kation dan
anion, yang diukur dalam miliekuivalen, dalam larutan selalu sama. Bila garam
larut dalam air, misalnya garam Nacl, akan terjadi disosiasi sehingga terbentuk
ion-ion bermuatan positif dan negatif. Ion positif dinamakan kation, sedangkan
ion negatif dinamakan
• Anion:
Ion mengandung muatan
listrik dinamakan elektrolit. Cairan tubuh yang mengandung air dan garam dalam
keadaan disosiasi dinamakan larutan elektrolit. Dalam semua larutan elektrolit,
ada keseimbangan antara konsentrasi anion dan kation.
·
Kation :
ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation
ekstraselular utama adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama
adalah kalium (K+). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa
natrium ke luar dan kalium ke dalam.
·
Anion :
ion-ion yang membentuk
muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida (Clˉ),
sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO43-).
Tubuh menggunakan elektrolit untuk mengatur keseimbangan cairan
tubuh. Sel-sel tubuh memilih elektrolit untuk ditempatkan diluar (terutama
natrium dan klorida) dan didalam sel (terutama kalium, magnesium, fosfat, dan
sulfat). Molekul air, karena bersifat polar, menarik elektrolit. Walaupun molekul
air bermuatan nol, sisi oksigennya sedikit bermuatan negatif, sedangkan
hidrogennya sedikit bermuatan positif. Oleh sebab itu, dalam suatu larutan
elektrolit, baik ion positif maupun ion negatif menarik molekul air
disekitarnya.
• Non-elektrolit :
Substansi seperti glokusa
dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat
(miligram per 100 ml-mg/dl). Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting
mencakup kreatinin dan bilirubin.
Kompartemen Cairan
Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen
utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada
orang normal dengan berat 70 kg, Total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar
60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini dapat berubah, bergantung
pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas (Guyton & Hall, 1997)
• Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB
total
Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa
kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada
rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi
adalah cairan intraselular.
• Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB
total
Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan
peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kira ½ cairan tubuh terkandung
didalam CES. Setelah 1 tahun, volume relatif dari CES menurun sampai kira-kira
1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria
dewasa (70 kg).
Cairan Ekstraseluler
terdiri dari :
• Cairan interstisial (CIT) :
Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa.
Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh,
volume CIT kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding
orang dewasa.
• Cairan intravaskular (CIV) :
Cairan yang terkandung di
dalam pembuluh darah. Volume relatif dari CIV sama pada orang dewasa dan
anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3
L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari
sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentransfor oksigen dan bekerja
sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (leukosit); dan trombosit.
Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda,
bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun
fungsi dari darah adalah mencakup :
- Pengiriman nutrien
(misal ; glokusa dan oksigen) ke jaringan
- Transpor produk sisa
ke ginjal dan paru-paru
- Pengiriman antibodi
dan SDP ke tempat infeksi
- Transpor hormon ke
tempat aksinya
- Sirkulasi panas
tubuh
• Cairan Transelular (CTS)
Adalah cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh.
Contoh CTS meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan
cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu CTS mendekati
jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar
ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal
(GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.
Proses Transport
- Difusi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi difusi :
a.
Suhu berbanding lurus
b.
Konsentrasi partikel berbanding
lurus
c.
Ukuran molekul berbanding terbalik
d.
Berat molekul dari partikel
berbanding terbalik
e.
Area permukaan yang
tersedia untuk difusi (luas permukaan membran) berbanding lurus
f.
Jarak lintas dimana
massa partikel harus berdifusi berbanding terbalik
2.
Osmosis
Gerakan air melewati membran semipermeabel dari area dengan konsentrasi
zat terlarut rendah ke area dengan konsentrasi zat terlarut tinggi
Kecepatan osmosis dipengaruhi oleh:
§
Konsentrasi solut di
dalam larutan.
§
Suhu larutan,
§
Muatan listrik solut,
§ Perbedaan antara tekanan osmosis yang dikeluarkan oleh larutan
Macam-macam sifat larutan :
- Isotonik adalah
suatu larutan yang osmolalitasnya sama dengan plasma darah. Pemberian
larutan isonik melalui intravena akan mencegah perpindahan cairan dan
elektrolit dari kompartemen intrasel.
- Hipotonik adalah suatu larutan yang
memiliki konsentrasi solut lebih rendah dari plasma, sehingga akan
membuat air berpindah ke dalam sel.
- Hipertonik adalah suatu larutan yang
memiliki konsentrasi solut lebih lebih besar dari plasma, sehingga akan
membuat air keluar dari dalam sel
3.Transport aktif
Difusi sederhana tidak
akan terjadi jika tak ada listrik atau gradien konsentrasi yang dibutuhkan.
Energi diperlukan agar
substansi dapat pindah dari area sederhana tidak akan terjadi jika tak ada
listrik atau gradien konsentrasi yang dibutuhkan.
Energi diperlukan agar
substansi dapat pindah dari area berkonsentrasi lebih rendah atau sama ke area
dengan konsentrasi sama atau lebih besar
4.Filtrasi
Gerakan air dan zat
terlarut dari area dengan tekanan hidrostatik tinggi ke area dengan tekanan
hidrostatik rendah.
Proses ini bersifat
aktif di dalam bantalan kapiler, tempat perbedaan tekanan hidrostastik atau
gradien yang menentukan perpindahan air, elektrolit dan substansi terlarut lain yang berada
diantara cairan kapiler dan cairan interstitial.
HORMON YANG TERKAIT KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
1. ADH
·
Hormon utama yang
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit adalah ADH dan
·
Aldosteron. Keadaan
kekurangan air akan meningkatkan osmolitas darah dan keadaan ini akan
·
direspon oleh kelenjar
hipofisis dengan melepaskan ADH. ADH akan menurunkan produksi
·
urine dengan cara
meningkatkan reabsorpsi air oleh tubulus ginjal. Selama periode sementara
·
kekurangan volume
cairan, seperti yang terjadi pada muntah dan diare atau perdarahan, jumlah
·
ADH di dalam darah
meningkat. Akibatnya, reabsorpsi air oleh tubulus ginjal meningkat dan air
·
akan dikembalikan ke
dalam volume darah sirkulasi. Dengan demikian haluaran urine akan
·
berkurang sebagai respon
terhadap kerja Hormon ADH ini.
2.
ALDOSTERON
·
Aldosteron merupakan
suatu mineralokortikoid yang
diproduksi oleh korteks
adrenal.
·
Aldosteron mengatur
keseimbangan natrium dan kalium dengan menyebabkan tubulus ginjal
·
mengekskresi kalium dan
mengabsorpsi natrium. Akibatnya, air juga akan direabsorpsi dan
·
dikembalikan ke volume
darah. Kekurangan volume cairan, misalnya karena perdarahan atau
·
kehilangan cairan
pencernaan dapat mensekresi aldosteron ke dalam darah.
3.
GLUKOKORTIKOID
·
Hormon kelas tiga,
Glukokortikoid, memengaruhi keseimbangan air dan elektrolit. Sekresi
·
hormon glukokortikoid secara normal tidak menyebabkan ketidakseimbangan cairan utama,
·
namun kelebihan hormon
di dalam sirkulasi dapat menyebabkan tubuh menahan natrium dan air
·
yang kita kenal sebagai
sindrom Cushing.
KESEIMBANGAN ASAM BASA TUBUH
- Keseimbangan
asam basa adalah homeostasis dari kadar ion hidrogen dalam tubuh
- Kadar
normal ion hidrogen (H) arteri adalah: 4x10-8 atau pH = 7,4 (7,35 – 7,45)
- Asidosis
= asidemia → kadar pH darah <7,35 Alkalemia = alkalosis → kadar pH
darah >7,45
- Kadar
pH darah <6,8 atau >7,8 tidak dapat diatasi oleh tubuh
Sistem Buffer Tubuh
- Sistem
buffer ECF → asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3 dan H2CO3)
- Sistem
buffer ICF → fosfat monosodium-disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4)
- Sistem
buffer ICF eritrosit → oksihemoglobin-hemoglobin (HbO2- dan HHb)
- Sistem
buffer ICF dan ECF → protein (Pr- dan HPr)
- Pertahanan
pH darah normal tercapai melalui kerja gabungan dari buffer darah, paru
dan ginjal
- Persamaan
Handerson Hasselbach:
20 [HCO3-]
pH = 6,1 + log ---------------------
1PaCO2
pH = 6,1 + log ---------------------
1PaCO2
- [HCO3-]
→ faktor metabolik, dikendalikan ginjal
- PaCO2
→ faktor respiratorik, dikendalikan paru
- pH
6,1 → efek buffer dari asam karbonat-bikarbonat
- Selama
perbandingan [HCO3-] : PaCO2 = 20 : 1 → pH darah selalu = 6,1 + 1,3 = 7,4
Gangguan Asam Basa darah
- Asidosis
metabolik [HCO3-] ↓ dikompensasi dengan PaCO2 ↓
- Alkalosis
metabolik [HCO3-] ↑ dikompensasi dengan PaCO2↑
- Asidosis
respiratorik PaCO2↑ dikompensasi dengan [HCO3-] ↑
- Alkalosis
respiratorik PaCO2↓ dikompensasi dengan [HCO3-] ↓
Asidosis Metabolik
- Ciri:
[HCO3-] ↓ <22mEq/L dan pH <7,35 → kompensasi dengan hiperventilasi
PaCO2↓, kompensasi akhir ginjal → ekskresi H+, sebagai NH4+ atau
H3PO4
- Penyebab:
Penambahan asam terfiksasi: ketoasidosis diabetik, asidosis laktat (henti
jantung atau syok), overdosis aspirin Gagal ginjal mengekskresi beban asam
Hilangnya HCO3- basa → diare
- Gejala
Asidosis Metabolik Tidak jelas dan asimptomatis Kardiovaskuler: disritmia,
penurunan kontraksi jantung, vasodilatasi perifer dan serebral Neurologis:
letargi, stupor, koma Pernafasan: hiperventilasi (Kussmal) Perubahan
fungsi tulang: osteodistrofi ginjal (dewasa) dan retardasi pada anak
- Penatalaksanaan
Asidosis Metabolik Tujuan: meningkatkan pH darah hingga ke kadar aman
(7,20 hingga 7,25) dan mengobati penyakit dasar NaHCO3 dapat digunakan
bila pH <7,2 atau [HCO3-] <15mEq/L
- Risiko
NaHCO3 yang berlebihan: penekanan pusat nafas, alkalosis respiratorik,
hipoksia jaringan, alkalosis metabolik, hipokalsemia, kejang, tetani
Alkalosis Metabolik Ciri: [HCO3-] ↑ >26mEq/L dan pH >;7,45 →
kompensasi dengan hipoventilasi PaCO2↑, kompensasi akhir oleh ginjal →
ekskresi [HCO3-] yang berlebihan
Penyebab:
- Hilangnya
H+ (muntah, diuretik, perpindahan H+dari ECF ke ICF pada hipokalemia)
- Retensi
[HCO3-] (asidosis metabolik pasca hiperkapnia)
Gejala Alkalosis Metabolik
- Gejala
dan tanda tidak spesifik
- Kejang
dan kelemahan otot → akibat hipokalemia dan dehidrasi
- Disritmia
jantung, kelainan EKG → hipokalemi
- Parestesia,
kejang otot → hipokalsemia
Penatalaksanaan Alkalosis Metabolik
- Tujuan:
menghilangkan penyakit dasar
- Pemberian
KCl secara IV dalam salin 0,9% → (diberikan jika Cl- urine <10mEq/L)
menghilangkan rangsangan aldosteron → ekskresi NaHCO3 Jika Cl- urine
>20mEq/L → disebabkan aldosteron yang berlebihan → tidak dapat diobati
dengan salin IV, tapi dengan diuretik
Asidosis Respiratorik
- Ciri:
PaCO2 ↑ >45mmHg dan pH <7,35 → kompensasi ginjal retensi dan
peningkatan [HCO3-]
- Penyebab:
hipoventilasi (retensi CO2), inhibisi pusat nafas (overdosis sedatif,
henti jantung), penyakit dinding dada dan otot nafas (fraktur costae,
miastemia gravis), gangguan pertukaran gas (COPD), obstruksi jalan nafas
atas
- Gejala
Asidosis Respiratorik Tidak spesifik Hipoksemia (dominan) → asidosis
respiratorik akut akibat obstruksi nafas Somnolen progresif, koma →
asidosis respiratorik kronis Vasodilatasi serebral → meningkatkan ICV →
papiledema dan pusing
- Penatalaksanaan
Asidosis Respiratorik Pemulihan ventilasi yang efektif sesegera mungkin →
pemberian O2 dan mengobati penyebab penyakit dasar PaO2 harus ditingkatkan
>60mmHg dan pH >7,2
Alkalosis Respiratorik
- Ciri:
penurunan PaCO2 <35mmHg dan peningkatan pH serum >7,45 → kompensasi
ginjal meningkatkan ekskresi HCO3-
- Penyebab:
hiperventilasi (tersering psikogenik karena stress dan kecemasan),
hipoksemia (pneumonia, gagal jantung kongestif, hipermetabolik (demam),
stroke, stadium dini keracunan aspirin, septikemia
Gejala Alkalosis Respiratorik
- Hiperventilasi
(kadar gas, frekuensi nafas)
- Menguap,
mendesak, merasa sulit bernafas
- Kecemasan:
mulut kering, palpitasi, keletihan, telapak tangan dan kaki dingin dan
berkeringat
- Parastesia,
otot berkedut, tetani
- Vasokontriksi
serebal → hipoksia cerebral → kepala dingin dan sulit konsentrasi
Penatalaksanaan Alkalosis Respiratorik
- Menghilangkan
penyebab dasar
- Kecemasan
dapat dihilangkan dengan pernafasan kantong kertas yang dipegang erat
disekitar hidung dan mulut dapat memulihkan serangan akut
- Hiperventilasi
mekanik → diatasi dengan menurangi ventilasi dalam satu menit, menambah
ruang hampa udara atau menghirup 3% CO2 dalam waktu singkat.
GANGGUAN KESEIMBANGAN
ELEKTROLIT DAN CAIRAN
Gangguan Keseimbangan Cairan
1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik
Gangguan Keseimbangan Elektrolit
1. Hiponatremia
Definisi : kadar Na+
serum di bawah normal (< 135 mEq/L)
Causa : CHF, gangguan
ginjal dan sindroma nefrotik, hipotiroid, penyakit Addison
Tanda dan Gejala :
• Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam
beberapa jam, pasien mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot.
• Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu
jam, bisa terjadi sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma.
• Mungkin pasien memiliki tanda-tanda
penyakit dasar (seperti gagal jantung, penyakit Addison).
• Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat
kehilangan cairan, mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi
2. Hipernatremia
Definisi : Na+ serum
di atas normal (>145 mEq/L)
Causa : Kehilangan
Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik, diuresis osmotik, diabetes
insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati pasca obstruksi, nefropati
hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik
lain.
Tanda dan Gejala :
iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma yang sekunder
terhadap hipernatremia.
3. Hipokalemia
Definisi : kadar K+
serum di bawah normal (< 3,5 mEq/L)
Etiologi
• Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya
pada muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi,
penyalahgunaan pencahar)
• Diuretik
• Asupan K+ yang tidak cukup dari diet
• Ekskresi berlebihan melalui ginjal
• Maldistribusi K+
• Hiperaldosteron
Tanda dan Gejala :
Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin
arefleksia, hipotensi ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang
menyebabkan ileus. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat
menyebabkan denyut ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi.
EKG sering memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen
ST.
4. Hiperkalemia
Definisi : kadar K+
serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)
Etiologi :
• Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada
gagal ginjal akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.
• Beban kalium dari nekrosis sel yang masif
yang disebabkan trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli
arteri akut, hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Sumber
eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan
penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.
• Perpindahan dari intra ke ekstraseluler;
misalnya pada asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat
dari osmolalitas darah.
• Insufisiensi adrenal
• Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap
hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama
• Hipoaldosteron
Tanda dan Gejala :
Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas
jantung. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan
peninggian kalium serum. Pada permulaan, terlihat gelombang T runcing (K+ >
6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang, amplitudo gelombang P
mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). Akhirnya interval QT
memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole
cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L.
Temuan-temuan lain
meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden.
Tanda2kalor
Dolor Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada
jaringan yang mengalami infeksi. Ini terjadi karena sel yang mengalami infeksi
bereaksi mengeluarkan zat tertentu sehingga menimbulkan nyeri menangis. Rasa
nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi gangguan atau sesuatu yang tidak normal
[patofisiologis] jadi jangan abaikan rasa nyeri karena mungkin saja itu sesuatu
yang berbahaya.
Kalor Kalor adalah rasa panas,
pada daerah yang mengalami infeksi akan terasa panas. Ini terjadi karena tubuh
mengkompensasi aliran darah lebih banyak ke area yang mengalami infeksi untuk
mengirim lebih banyak antibody dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi.
Tumor Tumor dalam
kontek gejala infeksi bukanlah sel kanker seperti yang umum dibicarakan nggak
boleh tapi pembengkakan. Pada area yang mengalami infeksi akan mengalami
pembengkakan karena peningkatan permeabilitas sel dan peningkatan aliran darah.
Rubor Rubor adalah kemerahan, ini terjadi pada area yang
mengalami infeksi karena peningkatan aliran darah ke area tersebut sehingga
menimbulkan warna kemerahan.
Fungsiolaesa adalah perubahan
fungsi dari jaringan yang mengalami infeksi. Contohnya jika luka di kaki
mengalami infeksi maka kaki tidak akan berfungsi dengan baik seperti sulit
berjalan atau bahkan tidak bisa berjalan. Jika infeksi sudah cukup lama maka
akan timbuh nanah [pes]. Nanah terbentuk karena "perang" anatara
antibody dengan antigen bertarung sehingga timbullah nanah, jika ditenggorokan
disebut dahak [batuk berdahak]. Dengan pemeriksaan nanah/dahak ini kita bisa mengetahui
jenis antigen yang menyebabkan infeksi. Bagaimana jelaskan apa saja tanda-tanda
infeksi. Setelah sebelumnya beritamandiri pernah posting tentang Penyebab
Keringat Berlebih di Kaki ,
PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan
secara umum pada pasien dengan gangguan atau resiko gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit meliputi :
• Kaji riwayat kesehatan dan keperawatan untuk identifikasi penyebab gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit
• Kaji manifestasi klinik melalui
• Kaji riwayat kesehatan dan keperawatan untuk identifikasi penyebab gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit
• Kaji manifestasi klinik melalui
Cairan hipertonis
adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannyamelebihi
cairan tubuh,
contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal,Dextrose 5% dalam
RL, Dextrose 5 %
dalam NaCl 0,45%.
- Cairan Hipotonis
adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya kurang
- Timbang berat badan klien setiap hari
- Timbang berat badan klien setiap hari
- Monitor vital sign
- Kaji intake output
• Lakukan pemeriksaan
fisik meliputi :
- Kaji turgor kulit,
hydration, temperatur tubuh dan neuromuskuler irritability.
- Auskultasi bunyi
/suara nafas
- Kaji prilaku, tingkat
energi, dan tingkat kesadaran
• Review nilai
pemeriksaan laboratorium : Berat jenis urine, PH serum, Analisa GasDarah,
Elektrolit serum,
Hematokrit, BUN, Kreatinin Urine.
2. Diagnosis
Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko
atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah :
• Pola nafas tidak
efektif berhubungan dengan ansietas, gangguan mekanisme
pernafasan,
abnormalitas nilai darah arteri
• Penurunan kardiak
output berhubungan dengan dysritmia kardio,ketidakseimbangan
elektrolit
• Gangguan keseimbangan
volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan
diare,kehilangan cairan lambung, diaphoresis, polyuria.
• Gangguan keseimbangan
cairan tubuh : berlebih berhubungan dengan anuria,penurunan
kardiak output,
gangguan proses keseimbangan, Penumpukan cairan di ekstraseluler.
• Kerusakan membran
mukosa mulut berhubungan dengan kekurangan volume cairan
• Gangguan integritas
kulit berhubungan dengan dehidrasi dan atau edema
• Gangguan perfusi
jaringan berhubungan dengan edema
3. Intervensi
Keperawatan
Intervensi keperawatan yang umum dilakukan pada pasien gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit adalah :
a. Atur intake cairan
dan elektrolit
b. Berikan therapi
intravena (IVFD) sesuai kondisi pasien dan intruksi dokter dengan
memperhatikan : jenis cairan, jumlah/dosis pemberian, komplikasi dari tindakan
c. Kolaborasi pemberian
obat-obatan seperti :deuretik, kayexalate.
d. Provide care seperti
: perawatan kulit,safe environment.
4. Evaluasi/Kriteria
hasil
Kriteria hasil
meliputi :
• Intake dan output
dalam batas keseimbangan
• Elektrolit serum dalam
batas normal
• Vital sign dalam batas
normal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar